.
Tanaman pisang mempunyai potensi yang
sangat besar sebagai penopang ekonomi keluarga tani, alternatif makanan pokok
dan tanaman pioner. Akhir-akhir ini tanaman pisang di pulau
Lombok dihadapkan pada ancaman yang sangat serius dari beberapa penyakit sistemik
yang mematikan, antara lain penyakit layu fusarium, penyakit darah, dan
penyakit kerdil pisang. Mengenal penyebab dan gejala serangannya sangat penting
agar petani dapat melakukan pengendalian secara tepat dan benar.
Beberapa penyakit
sistemik pada pisang di Pulau Lombok
a. Penyakit layu fusarium
Gejala penyakit layu fusarium ditemukan
pada pisang Susu (Rajasere). Tanaman yang terserang menjadi layu dan mati.
Seluruh tanaman dalam satu rumpun mati, termasuk anakan yang ada. Informasi
dari petani di Desa Labuan Pandan – Lombok Timur bahwa serangan penyakit ini
terjadi sejak tahun 2007.
Infeksi penyakit layu
fusarium terjadi bila patogen melakukan penetrasi pada akar tanaman pisang.
Jamur kemudian menyerang xylem sehingga menyebabkan penutupan
pembuluh. Gejala internal diawali dengan penguningan jaringan pembuluh di akar
dan bonggol yang selanjutnya berubah warna menjadi merah atau coklat pada
pembuluh vaskular pada pseudostem dan kadang-kadang pada
tangkai tandan. Pada saat tanaman mati, jamur akan tumbuh menyebar darixylem ke
jaringan sekitarnya, membentuk klamidospore (spora istirahat)
yang mampu bertahan dalam perakaran tanaman inang alternatif sampai 30 tahun.
Kerusakan terutama terjadi pada kelompok pisang Cavendish (Ambon Hijau),
Rajasere (pisang Susu), dan Ambon Kuning.
b. Penyakit darah
Penyakit darah ditemukan pada pisang Kepok.
Tanaman yang terserang
memperlihatkan gejala
penguningan daun dan layu. Gejala luar juga diperlihatkan dengan terjadinya
pengeringan pada bunga jantan. Pada serangan yang parah, batang semu mencoklat
dan membusuk.
Kerusakan disebabkan oleh bakteri‘blood
disease bacterium’ (BDB), terutama terjadi pada pisang Kepok
yang ditandai oleh pembusukan daging buah, sehingga daging buah busuk coklat
kemerahan menyerupai darah.
Penularan penyakit
dapat terjadi melalui bibit, tanah, air irigasi, alat-alat pertanian dan
serangga. Bakteri ini dapat bertahan paling singkat 1 tahun dalam tanah tanpa
kehilangan virulensinya. Perkembangan
penyakit di lapang terutama dipengaruhi oleh adanya sumber inokulum, persen
tanaman yang memasuki fase generatif dan populasi serangga penggerek bonggol
dan batang. Selain faktor-faktor
tersebut, penyebaran penyakit darah pada suatu wilayah juga sangat ditentukan
oleh aktivitas petani dalam memelihara tanaman, serta aktivitas pedagang ketika
melakukan panen buah dan bunga pisang. Penggunaan alat yang sama untuk
pemeliharaan tanaman atau panen dari satu kebun ke kebun yang lain tanpa
disadari merupakan satu cara penularan dan penyebaran penyakit yang sangat
efektif dan cepat dari satu tempat ke tempat lain.
c. Penyakit kerdil pisang
Gejala
penyakit kerdil pisang di Pulau Lombok telah ditemukan di Kota Mataram pada
beberapa pertanaman pisang yang tidak terawat di pinggir jalan. Sepanjang
perjalanan menuju desa Labuan Pandan juga ditemukan beberapa gejala, meskipun
masih sangat jarang. Di Desa Labuan Pandan – Lombok Timur, penyakit kerdil
pisang ditemukan pada pisang Udang dan pisang Susu dengan kerusakan mencapai
sekitar 5% dari total pertanaman. Petani telah melakukan eradikasi dengan cara
memotong beberapa tanaman yang memperlihatkan gejala sakit.
Penyakit
kerdil pisang disebabkan oleh ‘Banana Bunchy Top Virus’ (BBTV).
Gejala awal ditandai oleh adanya gejala hijau gelap bergaris pada tangkai dan
tulang daun menyerupai sandi morse. Pada lembaran daun di dekat ibu tulang daun
terdapat bercak/garis bengkok hijau gelap. Ketika tanaman semakin tua,
pertumbuhan daun menjadi terhambat, berukuran kecil, kaku dan mengarah ke atas,
tanaman menjadi kerdil.
d. Nematoda
Serangan nematoda dijumpai pada pisang kepok.
Pertumbuhan tanaman terhambat dan tanaman mudah rebah. Perakaran tanaman
menjadi busuk dan pertumbuhan akar-akar rambut terhambat.
Upaya pengendalian
Memperhatikan
metode penularan dan cepatnya infeksi penyakit di dalam tanaman, maka
pengendalian yang disarankan lebih ditekankan pada pencegahan daripada
pengobatan. Berikut adalah beberapa teknik yang dapat diterapkan:
a. Penggunaan bibit bebas penyakit
Penggunaan
bibit sehat merupakan langkah awal dari keberhasilan usaha tani pisang. Pengadaan bibit sehat yang paling mungkin
adalah melalui kultur jaringan. Karena perkembangan penyakit layu bakteri
pisang di dalam tanaman terjadi sangat cepat (3 – 4 minggu), maka bibit hasil
kultur jaringan hampir dapat dipastikan bebas dari bakteri patogen. Yang harus
diingat adalah bahwa bibit bebas penyakit (hasil kultur jaringan) tidak sama
dengan bibit tahan penyakit, bahkan pada kenyataannya di lapang justru lebih
rentan terhadap penyakit. Karenanya, pemeliharaan dan pengendalian penyakit di
lapang harus tetap dilakukan.
b. Budidaya tanaman sehat
Pengendalian penyakit tidak dapat
dilepaskan dari pemeliharaan tanaman yang optimal. Ketahanan tanaman dapat
diperoleh melalui kegiatan pemeliharaan tanaman yang baik, antara lain
pembumbunan, pemupukan, pengairan, dan sanitasi kebun. Karena proses
pemeliharaan tanaman ini banyak melibatkan aktivitas manusia dan menggunakan
peralatan yang memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk menularkan penyakit,
maka harus diupayakan agar aktivitas pemeliharaan tidak menyebarkan
penyakit, antara lain dengan cara mengatur agar pekerja tidak bergerak dari
tanaman sakit ke tanaman sehat dan sterilisasi alat-alat yang telah digunakan
untuk memotong tanaman sakit.
c. Pemanfaatan agen pengendali hayati
Pemanfaatan
agen pengendali hayati terutama dilakukan untuk mengurangi sumber bahan penular
(inokulum) yang terdapat di dalam tanah. Beberapa agen pengendali hayati
telah banyak tersedia di pasaran. Pemanfaatan agen pengendali hayati juga dapat
ditujukan terhadap kompleks hama, sehingga peluang penularan melalui vektor
dapat ditekan.
d. Pembungkusan tandan buah dan pemotongan
bunga jantan
Metode ini dilakukan untuk mengurangi
peluang penularan tanaman melalui serangga pengunjung bunga pisang. Meskipun
tidak menjamin 100% terbebasnya tanaman dari infeksi penyakit, metode ini dapat
menurunkan intensitas serangan sampai tingkat 20-30%. Pembungkusan tandan
dilakukan segera setelah bunga keluar menggunakan plastik biru, kantong semen,
karung dan bahan-bahan pembungkus lain yang aman. Penggunaan plastik
transparan berwarna bening/putih tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan buah
menjadi terbakar.
e. Pengendalian serangga vektor
Mengingat
bahwa hampir seluruh hama yang terdapat pada kompleks pertanaman pisang
memiliki peluang untuk menularkan penyakit, maka pengendalian harus dilakukan
secara menyeluruh terhadap semua hama yang ada. Ambang kendali hama semakin
rendah pada wilayah-wilayah yang terdapat sumber penular penyakit. Selain
metode perlindungan bunga dan tandan buah melalui pembungkusan dan pemotongan
bunga jantan, pengendalian serangga vektor dapat dilakukan secara kultur
teknis, hayati, mekanis maupun kimiawi.
f. Eradikasi
Tanaman-tanaman yang telah terinfeksi penyakit
bakteri sangat kecil kemungkinannya untuk disembuhkan. Pada tahap ini eradikasi
harus dilakukan agar tidak menjadi sumber penular bagi tanaman-tanaman di
sekitarnya. Eradikasi harus dilakukan dengan cara yang ekstra hati-hati agar
tanaman terinfeksi yang dibongkar tidak tercecer sehingga menulari tanaman yang
lain. Selain dengan cara membongkar dan menggali tanaman terinfeksi, eradikasi
dapat juga dilakukan dengan cara membakar atau menginjeksi tanaman dengan bahan
kimia (minyak tanah atau herbisida). Injeksi tanaman sakit dengan 10 ml
herbisida berbahan aktifglyphosate terbukti dapat membunuh tanaman
dan jamur fusarium yang ada di dalam jaringan tanaman. Dengan cara tersebut,
kemungkinan penyebaran patogen oleh tanaman terinfeksi dapat diperkecil.
g. Menghindarkan pemindahan bahan-bahan
tanaman terinfeksi dari daerah endemis ke daerah non endemis
Peran manusia dalam penularan
penyakit-penyakit tanaman pisang sangat besar, baik di dalam kebun
melalui aktivitas kerja, maupun antar kebun dan bahkan antar wilayah melalui
pergerakan bahan tanaman terinfeksi. Bahan tanaman terinfeksi ini dapat berupa
bibit maupun hasil panen. Seringkali tanaman terinfeksi belum/tidak
memperlihatkan gejala dari luar sehingga masih laku dijual dan didistribusikan
ke lain tempat. Setelah diketahui oleh konsumen bahwa buah tersebut ternyata
busuk, maka kemudian dibuang begitu saja dan menjadi sumber penular yang
potensial. Pada taraf ini penerapan karantina tumbuhan sangat diperlukan.
h. Pengembangan sistem pola tanam pisang multi
varietas
Karena masing-masing penyakit pada tanaman
pisang menimbulkan kerusakan yang spesifik varietas, maka pengembangan pisang
multi varietas akan dapat mengurangi resiko kegagalan akibat serangan penyakit.
Pengembangan dan penyebaran varietas pisang yang ada saat ini tampaknya
dipengaruhi oleh preferensi konsumen setempat, pengalaman petani dan kesesuaian
lahan terhadap masing-masing varietas.
i. Melakukan sosialisasi pengendalian ke semua
pihak yang terlibat dalam pengembangan komoditas pisang
Banyak pihak yang belum memahami cara-cara
pengendalian penyakit pisang. Sosialiasi teknologi pengendalian sangat
diperlukan untuk merubah pemahaman petani dari mengobati penyakit menjadi
mencegah terjadinya serangan penyakit. Upaya sosialisasi ini dapat dilakukan
secara langsung terhadap petani maupun melalui TOT (training of trainer)
terhadap penyuluh dan pengamat hama penyakit tanaman.
Komentar
Posting Komentar