ANALISIS DAMPAK BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERDESAAN (BLM-PNPM MP) 2008 TERHADAP SUMBER-SUMBER PENDAPATAN WANITA TANI DI KABUPATEN TAKALAR
ABSTRACT
The
study aims to determine how the effects of BLM-PNPM MP on the income of women
peasant before and after getting help and how the farm women's income level.
The study was conducted in Bontolebang Village, Galesong Utara Sub-District,
Takalar District to groups of women peasant-beneficiaries BLM PNPM MP within
the past two months, which begun in June and July 2009. Population of the
research is that all groups of women peasant-beneficiaries BLM PNPM MP in 2008.
The sample was 30 people of two groups of women peasant-beneficiaries BLM PNPM
MP. Data analysis employed cost analysis and farming income.
The
results indicated that, the income sources of farm women before obtaining
funding, BLM PNPM MP is a horticultural farm and became honorary employee,
after obtaining grants, non-agricultural business (trade of industrial goods)
to be the choice for business development. In addition to increase revenue of
20 people have been in the range of 1,594,350 to 12,596,532 and 10 people were
in the range of 12,596,533 to 53,474,462. Although women peasant income levels
were still relatively low after getting BLM, but it was happening the increase
of 8.7 percent in their revenue.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Sektor
pertanian berperan besar dalam pembangunan, baik secara langsung dalam
pembentukan Product Domestic Bruto (PDB), penyedia lapangan kerja,
sumber pendapatan bagi masyarakat, pengentasan kemiskinan, perolehan devisa dan
penciptaan ketahanan pangan nasional maupun secara tidak langsung melalui
penciptaan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan hubungan
sinergis dengan sektor lainnya. Pembangunan sektor pertanian merupakan penopang
utama terhadap perekonomian nasional. Hal ini telah dibuktikan saat terjadi
krisis ekonomi, sektor pertanian masih tetap bertahan sebagai sumber devisa
negara.
Meskipun sektor pertanian memberikan sumbangan
yang besar terhadap Product Domestic Bruto (PDB), penciptaan kesempatan
kerja dan jaminan pendapatan kepada masyarakat, namun masih sering terjadi
ketidakseimbangan sistemik pada kelompok masyarakat tani yang sebagian besar
berada di perdesaan. Meningkatnya kesempatan untuk memperoleh akses faktor
produksi serta potensi dan kesempatan yangberagam, belum dapat mengurangi wajah
kesenjangan antar sektor, antar daerah, dan antar golongan masyarakat pada
sektor pertanian. Implikasi dari kondisi demikian, membuat sebagian besar
penduduk masih berada dalam kondisi tertinggal, sehingga pembangunan pertanian
seolah-olah hanya menguntungkan pelaku kegiatan ekonomi pertanian yang lebih
kuat. Hasil-hasil pembangunan pertanian, tidak serta merta dapat merembes ke
bawah sehingga tidak mampu mengangkat kesejahteraan petani seperti yang
diharapkan. Keadaan ini digambarkan oleh angka kemiskinan di perdesaan yang
masih besar.
Data
Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2007 jumlah penduduk
miskin tercatat 37,20 juta jiwa. Sekitar 63,40% dari jumlah tersebut berada di
perdesaan dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian dan 80% berada pada
skala usaha mikro dengan luas lahan lebih kecil dari 0,30 ha. Lebih lanjut
Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Tim P2E-LIPI)
mengemukakan bahwa angka kemiskinan pada tahun 2008 diperkirakan akan naik
menjadi 41,70 juta jiwa.
Permasalahan kemiskinan yang cukup kompleks membutuhkan
intervensi semua pihak secara bersama dan terkoordinasi. Namun penanganannya
selama ini cenderung parsial dan tidak berkelanjutan. Peran dunia usaha dan
masyarakat pada umumnya juga belum optimal. Kerelawanan sosial dalam kehidupan
masyarakat yang dapat menjadi sumber penting pemberdayaan dan pemecahan akar
permasalahan kemiskinan juga mulai luntur. Untuk itu diperlukan perubahan yang
bersifat sistemik dan menyeluruh dalam upaya penanggulangan kemiskinan.
Untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan penciptaan
lapangan kerja di masyarakat, pemerintah telah meluncurkan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) sejak tahun 2007. Melalui
PNPM MP dirumuskan kembali mekanisme upaya penanggulangan kemiskinan yang
melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan,
hingga pemantauan dan evaluasi. Melalui proses pembangunan partisipatif,
kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat, terutama masyarakat miskin dapat
ditumbuh-kembangkan, sehingga mereka bukan sebagai objek melainkan sebagai
subjek dalam upaya penanggulangan kemiskinan.
Salah satu komponen program PNPM
MP ialah Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). BLM merupakan dana stimulan
keswadayaan yang diberikan kepada kelompok masyarakat untuk membiayai sebagian
kegiatan yang direncanakan oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat miskin.
PNPM MP dilaksanakan di 47.954 desa atau kelurahan di 3.999
kecamatan dengan anggaran untuk BLM sebesar Rp 5,924 triliun. Khusus PNPM MP
pada tahun 2008 ditetapkan lokasi sebanyak 2.389 kecamatan yang tersebar di 32
provinsi dan 363 kabupaten. Jumlah BLM yang disalurkan PNPM MP pada tahun 2008 hingga 15 Desember mencapai
Rp 3,261 triliun atau 76% dari total BLM (Royat, 2009).
Salah satu prinsip dari PNPM MP
adalah kesetaraan dan keadilan gender, dalam artian bahwa masyarakat baik
laki-laki maupun perempuan setara dalam perannya di setiap tahapan program dan
dalam menikmati manfaat kegiatan pembangunan. Oleh karena itu salah satu
langkah yang dilakukan adalah gerakan keberpihakan kepada wanita. Pemihakan
memberi makna berupa upaya pemberian kesempatan bagi wanita untuk memenuhi
kebutuhan dasar, ekonomi, serta mengakses aset produktif. Wujud keberpihakan
kepada wanita tersebut digalakkan dengan memberikan BLM kepada kelompok wanita
tani dalam bentuk Simpan Pinjam Perempuan (SPP).
Khusus di Provinsi Sulawesi Selatan, kabupaten yang
menjadi sasaran program ini adalah Kabupaten Takalar. Salah satu lokasi yang
mendapat kucuran dana BLM-PNPM MP di wilayah ini adalah Kelurahan Bontolebang,
Kecamatan Galesong Utara. Selain dipergunakan untuk membangun sarana dan
prasarana di tingkat kelurahan, dana BLM-PNPM MP secara individu diberikan
kepada wanita tani melalui kelompok. Dana ini merupakan bentuk fasilitasi
pinjaman modal usaha kepada kelompok wanita tani dengan tujuan untuk
meningkatkan pendapatan wanita tani melalui pengembangan usahatani atau
menambah sumber-sumber pendapatan lainnya.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar
belakang, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1.
Darimana sumber-sumber pendapatan wanita tani
sebelum dan sesudah mendapatkan dana BLM-PNPM MP?
2.
Bagaimana tingkat pendapatan wanita tani sebelum
dan sesudah mendapatkan dana BLM-PNPM MP?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1.
Sumber-sumber pendapatan wanita tani sebelum dan
sesudah mendapatkan dana BLM-PNPM MP.
2.
Tingkat pendapatan wanita tani sebelum dan
sesudah memperoleh dana BLM-PNPM MP.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna
bagi:
1.
Peneliti, sebagai tambahan wawasan dan
pengetahuan mengenai sumber-sumber pendapatan wanita tani dan tingkat
pendapatan wanita tani sebelum dan sesudah mendapatkan dana BLM-PNPM MP.
2.
Pemerintah, sebagai informasi dan bahan
pertimbangan dalam mengambil sebuah kebijakan dalam pembangunan daerah,
terutama dalam peningkatan pendapatan rumah tangga petani melalui program
BLM-PNPM MP.
3.
Peneliti lain, sebagai acuan dalam melaksanakan
penelitian lanjutan.
1.5
Kerangka
Pemikiran
Berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa
masyarakat tani, yang secara umum berlahan sempit bahkan ada yang tidak
memiliki lahan dan modal rendah, tidak semata-mata mengandalkan sumber
pendapatannya dari sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain
melakukan kegiatan usahatani komoditas pertanian (on-farm), petani biasa
melakukan kegiatan di luar usahatani tetapi masih berkaitan dengan pertanian (off-farm)
dan kegiatan lain di luar pertanian (non-farm) (Kementerian Pertanian,
2009).
Sumber pendapatan luar usahatani (off-farm)
merupakan pendapatan yang diperoleh dari kegiatan luar usahatani tetapi masih
berkaitan dengan pertanian, seperti buruh tani, membuka kios saprodi pertanian,
dan lain-lain.Sumber pendapatan rumah tangga dari kegiatan buruh tani biasanya
terdapat pada usahatani yang berbasis lahan. Rumah tangga petani di perdesaan
yang tidak memiliki lahan garapan dengan tingkat pendidikan dan keterampilan
yang rendah akan sulit mencari pekerjaan di luar sektor pertanian, sehingga buruh
tani menjadi alternatif mata pencaharian utama atau sampingan. Sumber
pendapatan luar pertanian (non-farm) merupakan pendapatan yang diperoleh
dari kegiatan di luar pertanian seperti membuka warung/kios, industri rumah
tangga non pertanian, dan lain-lain.
Sejak
pertengahan dasawarsa 1980-an, di perdesaan terjadi perubahan pesat yang tidak
homogen kecepatan dan besarannya, dimana aktivitas non pertanian semakin nyata
berperan dalam penciptaan kesempatan kerja dan pendapatan. Seiring dengan
meningkatnya kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana transportasi dan
komunikasi, maka aksesibilitas perdesaan terhadap wilayah urban semakin
meningkat, dimana kaitan antar sektor perekonomian semakin erat dan kapasitas
ekonomi wilayah juga semakin berkembang.
Di
sisi lain, pertumbuhan penduduk meningkatkan kebutuhan akan barang dan
jasa-jasa, pertumbuhan angkatan kerja membutuhkan kesempatan kerja yang semakin
banyak, namun sumberdaya semakin langka adanya. Interaksi antar faktor-faktor
berimplikasi luas terhadap struktur kesempatan kerja dan pendapatan di
perdesaan (Elizabeth, 2010).
Banyak penulis telah mendokumentasi pentingnya strategi
berbasiskolektif, seperti misalnya membentuk koperasi dan usaha kecil, dalam
proyek‐proyek yang targetnya adalah perempuan. Sebagai contoh,
(Nowak dan Caulfield, 2008) menjelaskan bahwa dengan menggalakkan kegiatan
bersama, organisasi wanita menyediakan kesempatan bagi perempuan untuk
mengembangkan kecakapan memimpin dan mengelola, membangun percaya diri dan
membantu membina hubungan dengan kelompok lain yang bisa memberikan bantuan dan
dukungan.
Food and Fertiliser Technology Centre (FFTC) menekankan
pentingnya mengembangkan kelompok wanita sebagai “strategi untuk mengembangkan
akses perempuan terhadap informasi, meningkatkan kemampuan mereka untuk ikut
mengambil keputusan dan menciptakan kesempatan untuk membentuk kegiatan bersama
dalam usaha mengakses masukan ekonomi” (FFTC, 2007).
Sebuah makalah diskusi yang
ditulis oleh (IFPRI, 2010) memberi peringatan sebagai berikut: bahwa “ketidaksetaraan
gender dan kurangnya perhatian terhadap gender dalam pembangunan pertanian
menyumbang terhadap rendahnya produktivitas, hilangnya pendapatan, dan lebih
tingginya tingkat kemiskinan serta rendahnya gizi” (Peterman et al, 2010).
Di
sisi lain, sebagai anggota rumah tangga petani, wanita tani berperan aktif
dalam membantu aktivitas usahatani dan mencari nafkah di subsektor off dan
on farm. Makin luas lahan usahatani yang digarap, makin banyak tenaga
wanita yang tercurah, yang mengindikasikan variasi dan ragam aktivitas dan
kuantitas curahan waktu/tenaga wanita tani. Makin rendah tingkat ekonomi suatu
rumah tangga petani,makin besar curahan waktu/tenaga wanita dalam menghasilkan
pendapatan keluarga (Elizabeth, 2010).
Bila wanita tani berstatus janda atau suami
bekerja di rantau, otomatis wanita tani akan berperan ganda, yaitu sebagai
kepala keluarga (yang mengatur segala urusan rumah tangga) dan sebagai
pengelola usahatani keluarga. Begitu juga Kontribusi pendapatan dari satu jenis
kegiatan terhadap total pendapatan rumah tangga tergantung pada produktivitas
faktor produksi yang digunakan dari jenis kegiatan yang bersangkutan.
Stabilitas pendapatan rumah tangga cenderung dipengaruhi dominasi sumber-sumber
pendapatan. Jenis-jenis pendapatan yang berasal dari luar sektor pertanian
umumnya tidak terkait dengan musim dan dapat dilakukan setiap saat sepanjang
tahun (Nurmanaf, 2006).
Buku Gender and Agricultural
Sourcebook (2009) yang diterbitkan oleh Bank Dunia mengidentifikasi kegagalan
untuk mengakui adanya peran, perbedaan dan ketidaksetaraan antara laki‐laki
dan perempuan sebagai ancaman serius terhadap keefektifan agenda pembangunan
pertanian.
Dalam konteks ini
KWT memiliki fungsi yang sangat penting dalam usaha memberdayakan
perempuan dan meningkatkan produktivitas prakarsa‐prakarsa
yang berhubungan dengan usahatani perempuan. Sehubungan dengan perencanaan
kebijakan dan intervensi, pengalaman global menekankan pentingnya untuk secara
khusus memfokuskan diri pada perempuan dan pembentukkan usaha bersama atau
kelompok dilihat sebagai strategi kunci.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPMMP)
2.1.1 Pengertian PNPM MP
PNPM MP adalah program nasional penanggulangan kemiskinan terutama yang berbasis pemberdayaan
masyarakat. Pengertian yang terkandung mengenai PNPM MP adalah:
1.
PNPM MP adalah program nasional dalam wujud
kerangka kebijakan sebagai dasar dan acuan pelaksanaan program-program
penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat desa.
PNPM MP dilaksanakan melalui harmonisasi
dan pengembangan sistem serta mekanisme dan prosedur program penyediaan
pendampingan dan pendanaan stimulan untuk mendorong prakarsa dan inovasi
masyarakat dalam upaya penanggulangan kemiskinan yang berkelanjutan.
2.
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk menciptakan/meningkatkan
kapasitas masyarakat, baik secara individual maupun secara kelompok dalam
memecahkan berbagai macam persoalan terkait upaya peningkatan kwalitas hidup, kemandirian
dan kesejahtraannya.
Pemberdayaan masyarakat memerlukan
keterkaitan yang besar dari perangkat pemerintah daerah serta berbagai pihak
untuk memberikan kesempatan dan menjamin keberlanjutan berbagai hasil yang
dicapai.
2.1.2
Tujuan
PNPM MP
1.
Tujuan Umum
Meningkatkan kesejahtraan dan kesempatan
kerja masyarakat miskin pedesaan secara mandiri.
2.
Tujuan khusus
a.
Meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat
miskin, kelompok perempuan, komunitas adat terpencil, dan kelompok masyarakat
lainnya yang rentan dan sering terpinggirkan kedalam proses pengambilan
keputusan dan pengelolaan pembangunan.
b.
Meningkatkan kapasitas kelembagaan yang mengakar
representatif dan akutabel.
c.
Meningkatkan kapasitas pemerintah dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin melalui kebijakan, program dan
penganggaran yang berpihak kepada masyarakat miskin.
d.
Meningkatkan sinergisitas masyarakat, pemerintah
daerah, swasta, asosiasi, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan
kelompok peduli lainnya untuk mengefektifkan upaya-upaya penanggulangan
kemiskinan.
e.
Meningkatkan modal sosial masyarakat yang
berkembang sesuai dengan potensi sosial dan budaya serta untuk melestarikan
kearifan lokal.
f.
Meningkatkan inovasi dan pemanfaatan teknologi
tepat guna, informasi dan komunikasi dalam pemberdayaan masyarakat desa.
2.1.3 Pendekatan Program PNPM MP
Pendekatan atau upaya-upaya rasional dalam mencapai tujuan
program dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan program adalah
pembangunan yang berbasis masyarakat dengan:
1.
Menggunakan kecamatan sebagai fokus program
untuk mengharmonisasikan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian program.
2.
Memposisikan masyarakat sebagai
penentu/pengambil kebijakan dan pelaku utama pembangunan pada tingkat lokal.
3.
Mengutamakan nilai-nilai universal dan budaya
lokal dalam pembangunan partisipatif.
4.
Melalui proses pemberdayaan yang terdiri atas
pembelajaran kemandirian dan keberlanjutan.
2.1.4 Komponen Program Dalam
PNPM MP
Rangkaian
proses pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui program sebagai berikut:
1.
Pengembangan Masyarakat
Komponen pengembangan masyarakat mencakup
serangkaian kegiatan untuk membangun kesadaran kritis dan kemandirian
masyarakat yang terdiri dari pemetaan potensi, masalah dan kebutuhan
masyarakat, perencanaan partisipatif, pengorganisasian, pemanfaatan sumberdaya,
pemetaan dan pemeliharaan hasil-hasil
yang telah dicapai.
Untuk mendukung kegiatan tersebut
disediakan dana pendukung kegiatan pembelajaran masyarakat, pengembangn relawan
dan oprasional pendampingan masyarakat dan fasilitator, pengembangan kapasitas,
mediasi dan advokasi.
2.
Bantuan Langsung Masyarakat
Komponen Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) adalah dana stimulan kesewadayaan yang diberiakan kepada kelompok
masyarakat untuk membiayai sebaigian kegiatan yang direncanakan oleh masyarakat
dalam rangka meningkatkan kesejahtraan terutama masyarakat miskin.
3.
Bantuan pengelolaan dan pengembangan program
Komponen ini meliputi
kegiatan-kegiatan untuk mendukung
pemerintah dan berbagai kelompok peduli lainnya dalam pengelolaan kegiatan
seperti kegiatan penyediaan konsultasi manajemen, pengendalian mutu, evaluasi dan
pengembangan program.
2.1.5 Ruang lingkup program
PNPN MP
Ruang lingkup kegiatan PNPM MP
pada dasarnya terbuka bagi semua kegiatan penanggulangan kemiskinan yang
diusulkan dan disepakati masyarakat meliputi:
1.
Pengadaan dan perbaikan sarana/prasarana
lingkungan pemukiman, sosial dan ekonomi secara padat karya.
2.
Penyedia sumberdaya keuangan melaui dana
bergulir dan kredit untuk mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat miskin,
perhatian yang lebih besar diberikan bagi kaum perempuan untuk memanfaatkan
dana bergulir ini.
3.
Peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintah
lokal melaui penyadaran kritis, perhatian keterampilan usaha, manajemen
kegiatan organisasi dan keuangan serta penerapan tata pemerintahan yang baik.
( Pedoman Umum Program
PNPM MP, 2011)
2.2
Pemberdayaan
Masyarakat
Pemberdayaan
masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat golongan
masyarakat yang sedang dalam kondisi miskin sehingga mereka dapat melepaskan
diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan, paya pemberdayaan
masyarakat dilakukan dalam rangka membekali pengetahuan dan keterampilan bagi
masyarakat lapis bawah dan meningkatkan kekuatan mereka. (Zubaedi, 2007). Ukuran
kemandirian daerah mencakup terdapatnya sejumlah sarana dan prasarana
pendidikan, kesehatan, perumahan, dan ekonomi yang dapat memenuhi kebutuhan
dasar masyarakat perdesaan.
Namun
beberapa konsep pemberdayaan yang telah dimutakhirkan oleh pemerintah adalah
pemberdayaan melaui niai-nilai universal yang luntur untuk dibangkitkan
kembali, tujuan dari pemberdayaan ini adalah perubahan sikap dan perilaku
menjadi lebih baik praktiknya tetap saja memakai konsep kesadaran dan kemandirian
masyarakat itu sendiri kemudian dikenal dengan participatory rural apparasial (PRA).
2.3 Pendapatan
Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI)
dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK edisi revisi, 2010)
mendefinisikan pendapatan sebagai berikut:
Penghasilan didefinisikan dalam kerangka dasar
penyusunan penyajian laporan keuangan sebagai kenaikan manfaat ekonomi selama
satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan asset atau
penurunan liabilitas yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang berasal dari
kontribusi penanaman modal. Sedangkan
menurut Harahap (2007) mengemukakan bahwa pendapatan adalah hasil penjualan
barang dan jasa yang dibebankan kepada langganan atau mereka yang menerima.
2.4 Sumber Pendapatan Petani
Selain melakukan kegiatan usahatani komoditas
pertanian (on-farm), petani biasa melakukan kegiatan di luar usahatani
tetapi masih berkaitan dengan pertanian (off-farm) dan kegiatan lain di
luar pertanian (non-farm) (Kementerian Pertanian, 2009).
Sumber pendapatan luar usahatani (off-farm)
merupakan pendapatan yang diperoleh dari kegiatan luar usahatani tetapi masih
berkaitan dengan pertanian, seperti buruh tani, membuka kios saprodi pertanian,
dan lain-lain.
2.5 Kelompok Wanita Tani (KWT)
Kelompok Wanita Tani (KWT)
merupakan salah satu bentuk kelembagaan petani yang mana para anggotanya
terdiri dari para wanita-wanita yang berkecimpung dalam kegiatan pertanian (Trimo,
2006). Berbeda
dengan kelompok tani yang lainnya, kelompok wanita tani dalam pembinaannya
diarahkan untuk mempunyai suatu usaha produktif dalam skala rumah tangga yang
memanfaatkan atau mengolah hasil-hasil pertanian maupun perikanan, sehingga
dapat menambah penghasilan keluarga.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi komparatif (comparative study) yakni analisis
deskriptif kualitatif dengan subjek Kelompok Wanita Tani (KWT) penerima dana
BLM-PNPM MP tahun 2008 yang berlokasi di Kelurahan Bontolebang, Kecamatan
Galesong Utara, Kabupaten Takalar. Kelompok wanita tani yang dimaksud adalah
KWT Fitrah dan KWT Nusa Indah.
Metode studi komparatif
dipilih dengan pertimbangan bahwa dalam penelitian ini berusaha menjelaskan perbandingan keadaan sebelum dan sesudah
variable yang akan diteliti .
Studi komparatif terdiri dari
dua suku kata yaitu “studi” dan “komparatif”. Dalam
kamus bahasa Indonesia “studi” berarti penelitian, kajian atau telaah
(Depdiknas, 2007). Sedangkan “komparatif” yaitu berkenaan atau berdasarkan
perbandingan (Depdiknas. 2007). Jadi jika pengertian di atas disatukan maka
pengertian studi komparatif adalah
penelitian ilmiah atau kajian berdasarkan dengan perbandingan.
3.2 Oprasionalisasi Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini
dioprasionalkan sebagai berikut:
1.
BLM-PNPM MP adalah bantuan langsung masyarakat
yang disalurkan melalui kelompok sejak tahun 2008 diterima oleh KWT Fitrah dan
KWT Nusa Indah.
2.
Pendapatan wanita tani sebelum mendapatkan
bantuan dana (do) adalah pendapatan
wanita tani baik pendapatan usahatani (on farm), pendapatan (non farm) dan pendapatan (of farm) dihitung dalam satuan rupiah per bulan
(Rp/bulan).
3.
Pendapatan wanita tani sesudah mendapatkan
bantuan dana (d) adalah pendapatan
wanita tani baik pendapatan usahatani (on farm), pendapatan (off farm) dan pendapatan (non farm) dihitung dalam satuan rupiah per bulan
(Rp/bulan).
3.3 Teknik
Pengumpulan Data
Data
yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh dari wawancara dengan responden melalui alat bantu berupa
pertanyaan (kuisioner) yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Adapun data sekunder diperoleh dari
intansi atau kepustakaan yang ada kaitannya dengan masalah penelitian ini.
3.4 Teknik Penarikan Sampel
Teknik penarikan sampel yang
digunakan adalah total sampling (total sampling) dengan pertimbangan
penelitian ini akan dilakukan pada suatu
kelompok.
Total sampling adalah teknik pengambilan
sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi (Sugiyono, 2012). Alasan
mengambil total sampling karena menurut Sugiyono (2012) jumlah populasi yang kurang
dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian, sementara seluruh
anggota KWT yang dipilih sebagai responden yaitu sebanyak 30 orang sehingga
memungkinkan untuk memilih teknik penarikan sampel secara total sampling.
3.5 Rancangan Analisis Data
Data
perimer mengenai pendapatan wanita tani yang meliputi pendapatan usahatani (on farm), pendapatan (non farm) dan pendapatan (off farm) sebelum dan setelah mendapatkan BLM-PNPM MP dianalisis secara deskriptif kualitatif, sedangkan
untuk menguji perbedaan tingkat pendapatan sebelum dan sesudah adanya
program BLM-PNPM MP, dianalisis dengan menggunakan analisis komparasi .
Pendapatan wanita tani sebelum dan sesudah
mendapatkan dana BLM-PNPM MP dapat dihitung menggunakan rumus menurut
(Suratiyah, 2009) sebagai berikut :
P = TP – (Bt + Btt)
Di mana : P
= Pendapatan bersih usahatani (Rp)
TP = Total penerimaan usahatani (Rp)
Bt = Biaya
tunai (Rp)
Btt = Biaya tidak
tunai (Rp)
3.6 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di Kelurahan Bontolebang, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten
Takalar.mulai bulan maret sampai dengan juni 2009.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Identitas Responden
4.1.1 Umur
Responden
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa umur responden berkisar antara 20 - 52 tahun
dengan rata-rata umur 34 tahun.Jumlah responden yang berumur tua lebih banyak dibandingkan
dengan yang berumur muda. Karakteristik umur responden secara singkat disajikan
pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Umur Responden
|
No
|
Kelompok umur
(Thn)
|
Katergori
|
Jumlah
Responden
(Orang)
|
Persentase
(%)
|
|
1
|
≥
34
|
Tua
|
17
|
56,7
|
|
2
|
<
34
|
Muda
|
13
|
43,3
|
|
Jumlah
|
30
|
100
|
||
Pekerjaan
sebagai wanita tani masih didominasi oleh wanita yang berumur tua. Hal ini
disebabkan karena kebanyakan wanita berumur muda lebih memilih untuk bekerja di
sektor non pertanian seperti menjadi tenaga pengajar, tenaga medis dan
sebagai pedagang. Alasan mereka umumnya berpendapat bahwa sektor pertanian
tidak memiliki prospek yang baik untuk ditekuni secara total. Selain itu
semakin rendahnya Nilai Tukar Petani (NTP) menjadi alasan generasi muda memilih
sektor lain.
4.1.2 Tingkat
Pendidikan Responden
Menyangkut
tingkat pendidikan responden, hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata
berada pada tingkatan sekolah dasar dan sekolah menengah tingkat pertama. Kisaran
tingkat pendidikan responden berada pada 2 - 16 tahun dengan rata-rata lama
pendidikan 8 tahun. Tabel 2 menunjukkan bahwa wanita tani responden yang
berpendidikan tinggi dan rendah memiliki jumlah yang sebanding, yaitu
masing-masing 15 orang (50%). Responden yang berpendidikan tinggi didominasi
oleh wanita tani yang berumur muda.
Tabel 2. Karakteristik Tingkat Pendidikan Responden
|
No
|
Tingkat
Pendidikan
(Thn)
|
Katergori
|
Jumlah
Responden
(Orang)
|
Persentase
(%)
|
|
1
|
≥
8
|
Tinggi
|
15
|
50,00
|
|
2
|
<
8
|
Rendah
|
15
|
50,00
|
|
Jumlah
|
30
|
100,00
|
||
4.1.3 Penguasaan
Lahan Responden
Luas
lahan usahatani mempengaruhi hasil produksi seorang wanita tani. Luas lahan
garapan menyebabkan wanita tani lebih memungkinkan untuk memaksimalkan tingkat
produksi sekaligus dapat meningkatkan kualitas produk usahataninya. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa luas lahan garapan responden berada pada kisaran 1
- 30 are dengan rata-rata seluas 7,60 are. Untuk lebih jelasnya mengenai
karakteristik penguasaan lahan responden dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Karekteristik Penguasaan Lahan
Responden
|
No
|
Luas
Lahan
(Are)
|
Katergori
|
Jumlah
Responden
(Orang)
|
Persentase
(%)
|
|
1
|
≥
7,6
|
Luas
|
10
|
33,30
|
|
2
|
<7,6
|
Sempit
|
20
|
66,70
|
|
Jumlah
|
30
|
100,00
|
||
Tabel
3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden menguasai lahan dengan luasan yang
masih tergolong sempit. Lahan yang dikuasai dan dikelola oleh responden umumnya
berupa kebun dan sawah. Lahan tersebut dikelola sendiri dengan dibantu oleh
anggota keluarga lainnya, terutama saat pengolahan lahan dan saat panen. Keterbatasan
kemampuan yang dimiliki oleh responden mengakibatkan mereka belum berkeinginan
untuk menambah luas lahan.
4.1.4 Tingkat
Pendapatan Rumah Tangga Responden
Tingkat pendapatan responden juga
bervariasi. Hasil penelitian menunjukkan pendapatan rumah tangga yang diperoleh
dari usahatani (sayuran) maupun non usahatani selama satu tahun (2007 –
2008). Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendapatan rumah tangga
dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4.
Karekteristik Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Responden
|
No
|
Tingkat
Pendapatan
(Thn)
|
Katergori
|
Jumlah
Responden
(Orang)
|
Persentase
(%)
|
|
1
|
≥
20.263.531,24
|
Luas
|
10
|
36,70
|
|
2
|
< 20.263.531,24
|
Sempit
|
20
|
63,30
|
|
Jumlah
|
30
|
100,00
|
||
Hasil penelitian menunjukkan
kisaran pendapatan rumah tangga responden berada pada Rp 2.953.150 - Rp
63.074.460 dengan rata-rata Rp 20.263.531,24. Data ini menunjukkan bahwa
sebagian besar responden memiliki pendapatan rumah tangga yang dikategorikan
rendah. Penyebabnya adalah kecilnya kontribusi pendapatan anggota keluarga
responden. Jenis pekerjaan mereka umumnya sebagai buruh bangunan, pedagang
kecil, dan petani berlahan sempit yang memiliki pendapatan rendah.
4.2 Sumber Pendapatan Wanita Tani Responden
Sebelum dan Sesudah Memperoleh BLM-PNPM MP
Berbagai hasil penelitian
mengungkapkan bahwa masyarakat tani yang umumnya berlahan sempit, bahkan ada
yang tidak memiliki lahan dan modal rendah tidak semata-mata mengandalkan
sumber pendapatannya dari sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain
melakukan kegiatan usaha pertanian petani juga melakukan kegiatan di luar pertanian
(Departemen Pertanian, 2009). Tabel 5 menunjukkan bahwa sebelum memperoleh dana
BLM-PNPM MP sumber-sumber pendapatan wanita tani responden berasal dari
usahatani sayuran dan sebagai pegawai honorer.
Tabel 5. Sumber
Pendapatan Responden Sebelum Memperoleh Dana BLM- PNPM MP
|
No
|
Sumber Pendapatan
|
Jumlah
Responden
(Orang)
|
Presentase
(%)
|
|
1
|
Usahatani
(Sayuran)
|
25
|
83,30
|
|
2
|
Usahatani
(Sayuran) dan Luar Usahatani (Pegawai Honorer)
|
5
|
16,70
|
|
Jumlah
|
30
|
100,00
|
|
Sebagian
besar responden (83,30%) hanya menggantungkan hidupnya dari usahatani,
selebihnya sebanyak 16,70% selain menjadi petani juga menjadi pegawai honorer.
Hal menunjukkan bahwa masih terbatasnya sumber-sumber pendapatan bagi wanita
tani. Keterbatasan modal merupakan salah satu faktor penghambat bagi wanita
tani dalam mencari sumber-sumber pendapatan yang lebih luas dan menjanjikan.
Sebelum
memperoleh dana BLM-PNPM MP, perolehan modal bagi wanita tani bersumber dari
pinjaman rentenir, sehingga pendapatan usahatani mereka berkurang. Sebagian
besar keuntungan usahatani dialokasikan untuk membayar hutang beserta bunga
yang cukup tinggi. Bahkan seringkali setiap musim panen mereka tidak sanggup
membayar hutang beserta bunganya. Kondisi ini menyebabkan keterikatan yang
berkepanjangan terhadap rentenir.
Setelah
memperoleh dana BLM-PNPM MP sebagian wanita tani memanfaatkan dana tersebut
untuk berusahatani sayuran dan membuka usaha baru (non pertanian) seperti
berdagang pakaian atau barang campuran. Hal ini tergambar jelas pada Jenis
usaha yang digeluti setelah mereka memperoleh dana BLM-PNPM MP.
Adanya
dana BLM-PNPM MP memungkinkan responden untuk mencari atau membuka usaha lain
di luar sektor pertanian. Ini ditunjukkan pada data Tabel 6, yang menggambarkan
variasi pekerjaan sampingan yang dapat digeluti oleh responden seperti
berdagang pakaian, barang campuran dan membuka warung. Tidak sedikit wanita
tani yang memilih sektor non pertanian sebagai sumber untuk menambah
pendapatan. Hal ini sejalan pendapat Elizabeth (2010) yang mengemukakan bahwa
sejak pertengahan dasawarsa 1980-an, di perdesaan terjadi perubahan pesat yang
tidak homogen kecepatan dan besarannya, di mana aktivitas non pertanian semakin nyata berperan dalam penciptaan kesempatan
kerja dan pendapatan (terjadi baik di Jawa dan luar Jawa).
Tabel 6. Jenis Usaha yang Digeluti oleh Responden.
|
No
|
Sumber Pendapatan
|
Jumlah
Responden
(Orang)
|
Presentase
(%)
|
|
1
|
Usahatani
(Sayuran)
|
9
|
30,00
|
|
2
|
Usahatani
dan Non Usahatani
-
Usahatani sayuran dan pegawai honorer
-
Usahatani sayuran dan berdagang
-
Usahatani sayuran, pegawai honoren dan
berdagang
|
2
16
3
|
6,70
53,30
10,00
|
|
Jumlah
|
30
|
100,00
|
|
Banyaknya wanita tani yang memilih sektor non pertanian
sebagai sumber untuk menambah pendapatan terkait pula dengan sifat-sifat produk
pertanian yang bersifat berat (bulky), mengambil banyak tempat (volumnious)
dan cepat atau mudah rusak (perishable) serta nilai tukar produk yang
rendah, sehingga masyarakat cenderung memilih alternatif sumber pendapatan dari
luar sektor pertanian dengan resiko kegagalan yang relatif lebih kecil. Selain
itu, keengganan beraktivitas di sektor pertanian karena di sektor ini terdapat gestation
period atau jarak waktu (gap) antara pengeluaran dan penerimaan
pendapatan. Sehingga keuntungan dari hasil pertanian membutuhkan waktu yang
lama untuk mereka peroleh.Gestation period dalam bidang
pertanian jauh lebih panjang daripada bidang industri. Dalam bidang industri,
sekali produksi telah berjalan, maka penerimaan dari penjualan akan mengalir
setiap hari sebagaimana mengalirnya hasil produksi.
Hasil
penelitian ini juga menunjukkan bahwa adanya gestation period menjadi
alasan bagi responden sehingga mereka memanfaatkan dana BLM-PNPM MP pada sektor
non pertanian. Ini cukup beralasan, karena pendapatan dari usahatani
hanya diterima pada saat panen, sedangkan dalam setiap hari dibutuhkan biaya
untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan kadang-kala terdapat kebutuhan yang
sangat mendesak untuk segera dipenuhi, namun responden tidak memiliki uang
karena pendapatan hanya diperoleh setelah panen.
4.3 Tingkat Pendapatan Responden Sebelum dan
Sesudah Memperoleh Dana BLM-PNPM MP
Pendapatan
wanita tani sebelum memperoleh dana BLM-PNPM MP dianalisis dari pendapatan
sektor pertanian (usahatani sayuran) dan sektor non pertanian selama
Januari 2007 hingga Januari 2008, sedangkan pendapatan setelah memperoleh dana
BLM-PNPM MP merupakan akumulasi pendapatan dari sektor pertanian, non pertanian
dan pendapatan dari usaha baru selama Januari 2008 hingga Januari 2009.
Data
yang disajikan pada Tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki
tingkat pendapatan yang rendah. Rendahnya tingkat pendapatan responden
disebabkan karena nilai tukar komoditas pertanian khususnya sayuran yang
diusahakan oleh reponden tergolong rendah. Terbatasnya luas penguasaan lahan
juga berdampak terhadap tingkat produksi dan pendapatan responden.
Tabel 7. Tingkat Pendapatan Wanita Tani
Responden Sebelum dan Sesudah Memperoleh Dana BLM-PNPM MP 2009
|
No
|
Pendapatan
(Rp)
|
kategori
|
Sebelum BLM
|
Sesudah BLM
|
||
|
∑
(orang)
|
%
|
∑
(orang)
|
%
|
|||
|
1
|
1.594.350
- 12.596.532
|
Tinggi
|
20
|
66,70
|
19
|
63,30
|
|
2
|
12.596.533 -
53.474.462
|
Rendah
|
10
|
33,30
|
11
|
36,70
|
|
Jumlah
|
30
|
100,00
|
30
|
100,00
|
||
Tabel
7 juga menggambarkan perubahan kategori tingkat pendapatan responden sebelum
dan setelah memperoleh dana BLM-PNPM MP. Jumlah responden yang memiliki
kategori tingkat pendapatan rendah sebelum memperoleh bantuan hanya berkurang
satu orang setelah memperoleh bantuan. Tingginya kesenjangan antara responden
yang berpendapatan terendah yaitu Rp 1.594.350 dengan responden yang
berpendapatan tertinggi yaitu Rp 53.474.460 menjadi faktor penyebab pergeseran
jumlah responden dari kategori tingkat pendapatan rendah menjadi kategori
tingkat pendapatan tinggi sangat sedikit. Padahal secara riil terjadi
peningkatan pendapatan setelah memperoleh dana BLM-PNPM MP yaitu rata-rata
sebesar 8,70%. Besarnya peningkatan pendapatan tersebut terlihat jelas pada
Tabel 8.
Tabel 8. Perubahan Tingkat Pendapatan Responden Setelah Memperoleh Dana
BLM-PNPM 2009
|
No
|
Besarnya peningkatan pendapatan
(Rp)
|
Kategori
|
∑
(orang)
|
Persentase
(%)
|
|
1
|
0 – 1.857.667
|
Tinggi
|
15
|
50
|
|
2
|
1.857.668 – 5.760.002
|
Rendah
|
15
|
50
|
|
Jumlah
|
30
|
100
|
||
Hambatan yang dihadapi setelah mendapatkan bantuan adalah rendahnya
kemampuan responden dalam mengembangkan usaha.Hal inilah yang menyebabkan
perubahan tingkat pendapatan sebelum dan setelah mendapatkan bantuan relatif
kecil. Disamping itu, waktu pemanfaatan dana yang masih terbilang singkat (satu
tahun), sehingga sebagian responden belum terlalu merasakan peningkatan
pendapatan secara signifikan. Meskipun belum memberikan dampak terhadap
signifikasi peningkatan pendapatan, namun dana BLM-PNPM MP dirasakan sangat bermanfaat
terutama dalam menghentikan kebiasaan meminjam modal dari rentenir.
BAB
V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan
uraian hasil penelitian, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Sumber-sumber
pendapatan wanita tani sebelum memperoleh dana BLM-PNPM MP adalah usahatani
sayuran dan pegawai honorer, namun setelah memperoleh dana bantuan, berdagang (non
usahatani) menjadi pilihan sebagai sumber pendapatan baru.
2. Setelah
memperoleh dana BLM-PNPM MP jumlah wanita tani yang tingkat pendapatannya
dikategorikan rendah menjadi berkurang dari 20 orang (66,70%) menjadi 19 orang
(63,30%) dan sebaliknya jumlah wanita tani yang tingkat pendapatannya yang
dikategorikan tinggi mengalami peningkatan dari 10 orang (33,30%) menjadi 11
orang (36,70%). Secara keseluruhan terlihat adanya peningkatan pendapatan
sebesar 8,70%.
5.2 Saran
Untuk mengefektifkan pemanfaatan
dana BLM-PNPM MP, maka di sarankan:
1. Sebaiknya
jumlah bantuan dana kepada wanita tani ditingkatkan agar dana tersebut dapat
digunakan untuk pengelolaan dan pengembangan usaha yang lebih baik dan
maksimal.
2. Penggunaan dana
BLM-PNPM MP sebaiknya dikontrol oleh Unit Pelaksana Teknis (UPK) agar
pengelolaannya bisa efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Badan
Pusat Statistik online.2007. Tingkat Kemiskinan di Indonesia Tahun 2007,
(http://www.bps.go.id/releases/files/kemiskinan-02juli07.pdf, Diakses pada
tanggal 11 Februari 2009).
Brown,
L. R., Feldstein, H. S., Haddad, L. J., Pena, C. & Quisumbing, A. R. 1995. Generating
food security in the year 2020: women as producers, gatekeepers and shock
absorbers, IFPRI. (http://www.ifpri.org/publication/generating‐food‐security‐year‐2020. Diakses pada tanggal 20 januari 2013).
Departemen
Pertanian. 2009. Diversifikasi Usaha Petani pada Lahan Marginal,(http://www.pustaka-deptan.go.id/ publikasi/wr293077.pdf,
Diakses pada tanggal 20 Mei 2009).
Depdikbud.1989.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta:
Balai Pustaka.
Direktorat
Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kementrian Dalam Negri. 2011. Pedoman umum BLM-PNPM MP 2011. Jakarta.
Elizabeth,
Roosgandha. 2010. Revitalisasi Ketenagakerjaan dan Kesempatan Kerja Terkait
Strategi dan Kebijakan Pembangunan Pertanian dan perdesaan. Bogor: Pusat
Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.
FFTC.
2007. ‘Enhancing the role of women
farmers in the developmentofruralAsia’,FFTC. (http://www.agnet.org/library/ac/2007e/.
Diakses pada tanggal 12 januari 2013).
Hardi,
R. 2008. Materi Kuliah Metode Penelitian dalam Tesis, (http://www.
rudyhardi penelitian. blogspot.com. Diakses pada tanggal 9 Februari 2009).
Harpowo.
2008. Kompetisi Pendapatan antara Sektor Pendapatan Usahatani dan Non
Usahatani dengan Sektor Non Pertanian di Daerah Sekitar Kawasan Hutan, (http://digilib.gunadarma.ac.id/
go.php?id=jiptumm-gdl-res-2000-harpowo-1241-forestry, Diakses pada tanggal 20
Mei 2009).
Nowak,
B.S. & Caulfield, T. 2008.Women and Livelihoods in Post‐Tsunami India and Aceh, Asia Research Institute Working Paper Series 104. Asia
Research Institute, National University of Singapore. (http://www.gsfaceh.com/download/mesiumtsunami/datadanfakta/wps08_104.pdf. Diakses pada tanggal 17 januari 2013.)
Nurmanaf, A.Rozany. 2006. Peranan
Sektor Luar Pertanian terhadap esempatan dan Pendapatan di Pedesaan Berbasis
Lahan Kering. Jurnal SOCA vol 8. no3. November 2008, hal 318-322.
Rahim
dan Hastuti. 2007. Pengantar, Teori, dan Kasus Ekonometrika Pertanian.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Sugiono.
2012. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif Dan R@D. Bandung: CV ALFABETA.
Suratiyah,
Ken. 2009. Ilmu Usahatani. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Peterman,
A., Behrman, J. & Quisumbing, A. 2010.A Review of Empirical Evidence on
Gender Differences in Nonland Agricultural Inputs, Technology, and Services in
Developing Countries, International Food Policy Research Institute .(http://www.indiaenvironmentportal.org.in/files/Nonland%20Agricultural%20Inputs.pdf.
Diakses pada tanggal17 januari 2013).
World
Bank, FAO & IFAD. 2009. Gender in Agriculture Sourcebook,
International Bank for Reconstruction and Development/ The WorldBank.(http://siteresources.worldbank.org/INTGENAGRLIVSOUBOOK/Resources/CompleteBook.pdf.
Diakses pada tanggal 17 januari 2013).
Zubaedi.
2007. Wacana Pembangunan Alternatif.
Yogyakarta: Ar-Ruz media.
terimakasih banyak admin
BalasHapus